Hari ini hari Minggu hari dimana Dendi akan menginap dirumah neneknya yang ada di Karawang, Bekasi. Dendi senang sekali ketika diajak kerumah neneknya itu. Pukul 17:42 Dandi sampai dirumah neneknya. "yeyeye, hai nek, apa kabar? Dandi rindu sekali dengan nenek." Sambil mencium tangan nenek dengan manja. "Nenek baik baik saja, cucu nenek yang manja...Nenek juga rindu denganmu. Apa kabar juga kamu di Jakarta?" "Ahh! Di Jakarta tidak enak nek, panas sekali disana. Sedangkan kalau disini rindang dan sejuk." "Ah kamu ini ada ada saja. Ya sudah, kalau kamu lelah, segera mandi gih. Lalu shalat..." "Baik nenekku sayangg!"
Pagi yang cerah, Dendi sedang bersepeda mengelilingi taman yang sejuk. Tiba tiba roda bannya terkena batu sehingga Dendi pun terjatuh dengan kaki yang memar, dan kening yang berdarah karena terkena batu. "Aduhhhhhhh!!!" Teriaknya. Lalu ada seseorang datang, "Ya ampun, siapa namamu? Dimana Tinggalmu?" Awalnya Dandi merasa ragu pada orang itu, lalu orang itu kembali bicara, "Tidak usah takut, aku hanya akan menolongmu." Rasa ragu Dendi pun berakhir. "Kenalkan namaku Ahmad, siapa namamu? Ayo aku bantu kamu bangun." "Wah, terimakasih ya...Namaku Dendi, aku tinggal di tempat nenek Sari. Dimana rumahmu?" balasnya. "Rumahku dekat kok dari rumah nenekmu, hanya terloncat 2 rumah dari rumah nenekmu." "Wah dekat dong. Aduh!!" Dendi terjatuh karena kakinya sakit sekali. "Kamu kenapa? Ayo aku bantu gendong kamu sampai rumah." Baik sekali orang ini gumam Dendi dalam hati. "Akhirnya sampailah kita." Kata Ahmad. "Wah3x!! Ada apa ini?" Tanya nenek. "Begini nek, tadi kebetulan saya lagi ada di taman, dan menemukan Dendi terjatuh dari sepedanya. Jadi saya tolong dia, dan kebetulan rumah kami berdekatan kan nek..." Kata Ahmad. "Oh, yasudah...Terimakasih Mad. Kamu memang anak yang baik." "Iya, terimakasih ya, besok kalau aku sudah sembuh, maukah kamu bermain denganku?" Tambah Dendi. "Tentu! Baiklah aku pulang dulu ya. Pamit pulang nek..."
Setelah 2 hari, mereka bermain bersama. Ketika itu Dendi hampir saja tertabrak truk besar, tetapi untung ada Ahmad yang selalu datang menolongnya disetiap waktu. "Terimakasih Ahmad, kau telah menolongku. Kau seperti malaikat yang selalu menjagaku." "Ah, tidak. Mungkin hanya sebuah kebetulan."
Hari berikut dan berikutnya Ahmad selalu menolong Dendi. Sampai mereka dewasa, masih tetap menjadi sahabat walau rumah Dendi tidak disitu lagi.
Suatu hari ketika Dendi sedang ada di Perpustakaan kota, dia bertemu dengan seseorang gadis cantik. Wah, sepertinya asmara mulai menyelimuti hati Dendi. Dia berusaha memperkenalkan dirinya kepada gadis itu. "Hai! Sedang mencari buku apa?"Tanya Dendi bertujuan merayu. "eehm, lagi nyari buku fisika." "Wah, kebetulan saya juga sedang mencari buku itu." Gadis cantik itu tersenyum manis. "Boleh kita berkenalan?" "Tentu saja."kata gadis itu. "Namaku Dendi, kamu?" "Namaku Sisca." sambil berjabat tangan. Pada kemudian hari Dendi dengan Ahmad belajar bersama. "Den! Kenapa bengong melulu sih? Lagi mikir apa yaa?" Tanya Ahmad. "Ahh! Enggak kok! Eh kok buku fisika milikmu sama sih kaya punyaku?"Jawab Dendi. "Ah, masa? Ya ampun Den, buku seperti ini kan banyak." "Eheehe, iya juga sih" "Tapi kok mirip banget yah?" Dan sepertinya aku pernah melihat buku ini. (Gumamnya dalam hati). "Hmm" balas Ahmad.
Sore hari, Dendi hendak bermain kerumah Ahmad. Tak terduganya ada Sisca, gadis yang dia taksir. "Kenapa Sisca disini sih? Jangan jangan, Sisca kekasihnya Ahmad? Oh tidak!!!!" 3 hari Dendi tidak pernah menemui Ahmad, Ahmad menelpon tidak pernah juga diangkat oleh Dendi. Akhirnya Ahmad memutuskan untuk menemui Dendi kerumahnya jauh jauh. Hari mendung, dan sebentar lagi akan hujan. "Dendi! Ini aku den! Bukain pintu nya dong! Aku Ahmad!" Sebenarnya Dendi mendengar, dan langsung tanpa basa basi Dendi melabrak Ahmad didepan rumahnya. "Hey! Pinter ya! Kita udah sahabatan dari kecil! Kenapa kamu malah nusuk aku dari belakang sih Mad? Hatiku sakit!! Dan itu gara gara kamu!!" Ahmad pun sama sekali tidak mengerti apa yang sedang dibicarakkan olehnya. Dan ia hanya bisa terbengong sambil meneteskan air mata mendengar perkataan sahabatnya yang sangat menusuk hati. Hari mulai gerimis. Dendi langsung menutup pintu dengan kerasnya. "Dendi! Aku gak tau maksudmu apa. Dan kalau memang aku salah aku minta maaf. Tapi aku sama sekali gak tahu apa permasalahanya! Dendi! Aku gak akan pulang sebelum kamu membukakan pintu maaf untukku." Omongan Ahmad sama sekali tidak digubris oleh Dendi. Dendi malah menutup jendela rapat rapat lalu menarik selimut dan tidur. Berjam jam Ahmad menunggu sambil kehujanan dan kedinginan. Hingga wajahnya pucat pasi.
Pagi harinya ada ramai ramai didepan gerbang Dendi. Dendi mulai menuruni tangga. "Permisi mba, ada apa ya?" Tanya Dendi pada salah satu masyarakat. "Ini, tadi ada pemuda pingsan didepan gerbang anda." JLEGGG!!! Dendi kaget, dan berpikir jangan jangan itu Ahmad. Ia pun bermaksud menemui Ahmad kerumahnya. Alhasil rumahnya banyak sekali orang orang berbaju hitam, dan ada bendera putih didepan rumahnya. "ASTAGA!! Apa yang telah aku lakukan? AHMAAADDDDD! Jangan tinggalkan aku!" Ia pun berlari sambil menangis mendekati rumah Ahmad!! Dia sempat tak kuat melihat Ahmad akan segera disemayamkan. Dendi Menangis tersedu sedu. Merasa sangat bersalah. Dikerumunan itu ia melihat Sisca, lalu bertanya "Ngapain kamu disini?" Sisca menjawab "Saya ikut berduka atas perginya Ahmad, murid les yang sangat saya banggakan." "Apa? Ahmad murid lesmu?"Kaget Dendi. "Iya," jawab Sisca. "Aku kira dia itu kekasihmu. Dan aku kesini mau minta maaf padanya." "Jadi kamu Dendi? Kamu yang selalu diceritakan Ahmad, bahwa dia bangga punya sahabat sepertimu, dia terkena kanker otak stadium 4." Sisca sambil meneteskan air mata tak henti hentinya. Sedikit sedikit air mata keluar dari air mata Dendi yang sebelumnya merasa sakit melebihi kejadian ini. Akhirnya Dendi kecewa, karena kata maafnya belum sempat ia ucapkan langsung dari mulutnya. Dan rasa berterimakasih padanya atas semuanya. "Mungkin jika aku tak mengenalmnu aku tak akan hidup sampai sekarang ini, terimakasih atas jasamu yang telah menyelamatkanku. Doaku menyertaimu MALAIKAT PENYELAMATKU. Sampai bertemu dialam yang baru saat nanti"
T A M A T